DI 29032025
Ayub 3:3, 11, 26
“Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.
Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?
Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.”
Ayub pernah mempertanyakan kenapa dia tetap dilahirkan tetapi ketika hidup, dia menderita dan kehilangan hampir semua yg dia miliki, sesuatu yg mgkin banyak org jg mempertanyakan hidup mereka.
Sebagian org meratapi nasibnya yg menurutnya tdk sebaik atau seindah hidup org lain, mengapa dia dilahirkan di keluarga yg miskin, sementara org lain sejak lahir menikmati kemewahan yang tentu saja membuat hidup lebih bahagia. Ada jg yg menyesali hidupnya, kenapa lahir dr orangtua yg menurunkan penyakitnya lewat DNA? Banyak org yg menolak orgtuanya karena kecewa pada karakter orgtuanya yg kasar, pemarah, atau juga karena ternyata orgtuanya seorg kriminal yang dibenci oleh banyak org. Apa yg dialami, sering org mencari ‘kambing hitam’ atau melimpahkan kesalahan pd org lain atau bahkan Tuhan juga disalahkan. Memang benar hal kelahiran adalah kedaulatan Tuhan, tak ada seorgpun yg berhak meminta dilahirkan di keluarga tertentu, tetapi percayalah bhw Tuhan itu adil, jika Dia dengan kedaulatan-Nya memutuskan seseorg lahir dlm sebuah keluarga, apapun kondisi keluarga itu, belajarlah utk bersyukur, tdk ada keluarga yang sempurna, tdk ada orgtua yg sempurna, Tuhan tdk pernah salah menempatkan kita di keluarga yg sekarang adalah keluarga kita. Dia adil dalam segala keputusan-Nya, belajar utk menerima yg Tuhan tetapkan dlm hidup kita.
Menyesali nasib tidak akan merubah nasib! Tapi ketika kita lebih fokus pd masa depan, dengan segala yg kita miliki sekarang, nasib bs diubah & latar belakang kita, tdk lagi menjd hambatan yg trs membayangi hidup kita setiap saat. Memang perlu proses dan waktu utk kita bs berfokus pd masa depan, tetapi keputusan utk berfokus ini sepenuhnya ada pd kesadaran kita. Belum lagi kita hrs menghadapi komentar miring dr orang yg ada di sekitar kita, dr sdr kandung, kerabat, teman kerja, dsbnya. Kita ingin melupakan, tapi orang lain terkadang mengingatkannya kembali, membuat emosi kita terpancing sehingga yang jadi reaksi kita cenderung negatif. Perlu suatu pengendalian diri yg kuat, ingatlah bhw kitalah yg pegang kendali atas hidup kita, jgn biarkan org lain mencoba ‘menyetir’ hidup kita dengan perkataan mereka. Tutuplah telinga utk semua perkataan yg tdk membangun iman dan kasih kita, bergaullah dgn org yg punya visi masa dpn dan punya integritas diri yg kuat, salah memilih teman dlm pergaulan, akan mempengaruhi dlm karakter dan pola pikir kita. Jgn biarkan apa yg baik dlm diri kita dirusak oleh pergaulan yang salah.
Menyesali nasib tdk akan merubah nasib, fokus pd apa yg ada di depan, kita dilahirkan di dunia ini pasti ada tujuan mulia yg Tuhan taruh dalam diri kita.